Masalah
Ekonomi Tambah Kusut
JAKARTA (Suara Karya) Penerapan prinsip neoliberalisme dalam
kebijakan ekonomi yang diusung pemerintah semakin terlihat jelas.
Liberalisasi berbagai sektor ekonomi dan pemujaan terhadap
perdagangan bebas semakin ditunjukkan oleh pemerintah meski tidak sedikit pun
memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.Pemerintah telah dinilai mengusung
kebijakan melepas tanggung jawab di bidang perekonomian dengan menyerahkannya
pada mekanisme pasar (hands off economic policy). Ini dilakukan meski mengusik
dan mengganggu kepentingan masyarakat luas.
Di antaranya terlihat melalui dua kebijakan. Pertama, tidak
adanya perlindungan terhadap pasar tradisional dan pedagang kecil yang kini
semakin tergusur dengan kehadiran pasar modem (minimarket /supermarket/
hipermarket).Kedua, adanya upaya penghapusan subsidi energi (bahan bakar
minyak, gas, dan listrik) bagi masyarakat. Tanpa disadari, kebijakan neoliberal
yang diimplementasikan dengan hands off policy justru mendorong peningkatan
angka kemiskinan dan pengangguran.
Bukannya mengurai, kebijakan pemerintahan saat ini justru
menambah kusut permasalahan ekonomi. Ini tidak mengurangi beban ekonomi, tetapi
kebijakannya justru kerap kaili menambah beban masyarakat dan usaha
kecil," kata ekonom Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) Universitas
Gadjah Mada (UGM) Ichsanuddin Noorsy di Jakarta, kemarin.Menurut dia, sikap
pemerintah yang membiarkan kebebasan terhadap pendirian warung/pasar modem bisa
mengakibatkan ribuan anak bangsa kehilangan pekerjaan dan menjadikan masyarakat
miskin baru.Sementara itu, Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia
(APPSI) Ngadiran mengatakan, pihaknya menyesalkan sikap pemerintah, khususnya
pernyataan Wapres Boediono yang membiarkan minimarket beroperasi selama 24
jam."Wapres tidak paham isi Per-pres Pasar Modem. Dengan minimarket buka
24 jam, maka pedagang kecil menjadi bangkrut," ujarnya.
Menurut Ngadiran, pasar tradisional mulai tergusur oleh pasar
modern sejak tahun 2002. Akibatnya, jutaan pedagang kecil dan pengusaha mikro
lainnya di seluruh Tanah Air menganggur. "Ini terbutkti di wilayah
Jakarta, jumlah pedagang dan pengusaha kecil yang menganggur sudah mencapai
18.860 orang atau 23 persen dari 82.000 pedagang dan pengusaha kecil yang ada
di pasar tradisional," katanya.Ngadiran mengingatkan, pengelola pasar
modern selalu mengembangkan diri dan memberi yang lebih baik, mulai fasilitas
penunjang hingga promosi. "Sebaliknya, kami yang ada di pasar tradisional
semakin diperas berbagai pungutan, tapi tidak menikmati pengelolaannya,"
kata dia.
Sementara itu. terkait de- ngan target pemerintah untuk
menghapuskan subsidi energi, yakni BBM dan listrik, Ichsanuddin Noorsy
mengatakan, hal itu merupakan langkah keliru karena pemerintah lebih memilih
mengalihkan beban besaran subsidi kepada masyarakat dan dunia usaha.
"Apabila subsidi dicabut, hal itu justru makin meningkatkan rumah tangga
miskin," ujarnya.Menurut dia, rencana pemerintah yang semata-mata
bertujuan mengamankan stabilitas fiskal melalui pengurangan subsidi akan
menimbulkan dampak negatif yang lebih besar. Padahal, beban fiskal atas besaran
subsidi BBM tersebut, menurut dia, berkaitan erat dengan pencapaian produksi
minyak nasional yang tidak mampu memenuhi target APBN. Tidak ada langkah
konkret mendorong peningkatan produksi minyak tersebut.
Di tempat terpisah. Direktur Center for Petroleum and Energy
Economics Studies (CPEES) yang juga selaku pengamat energi Kurtubi menilai,
tidak ada dasar hukumnya yang mengharuskan pemerintah untuk melepas subsidi BBM
ke harga keekonomian. Justru hal itu, kata dia, melanggar kedaulatan bangsa.
Sebab, sebagai negara produsen energi, yakni minyak, gas, dan batu bara, maka
tidak perlu memberlakukan harga jual di dalam negeri mengikuti harga
pasar."Berbeda dengan negara bukan penghasil energi lainnya, yang mengharuskan
semua kebutuhan energinya terpenuhi dari impor," tuturnya.(A Choir/Bayu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar